Showing posts with label tips and tricks. Show all posts
Showing posts with label tips and tricks. Show all posts
Monday, October 29, 2012
0
Monday, October 29, 2012
Unknown
Optimasi CPU Melalui BIOS
Dari pengalaman, motherboard dengan chipset
Intel dan VIA mempunyai jenis dan nama-nama setting yang nyaris
sama. Optimasi melalui BIOS pada dasarnya adalah menghidupkan fungsi
yang diperlukan dan mematikan fungsi yang tidak diperlukan.
Tujuannya adalah untuk menghemat waktu dan mengurangi beban motherboard
dan prosesor. Misalnya adalah fungsi Infrared atau SCSI,
jika memang komputer Anda tidak memilikinya, matikan
saja fungsi ini melalui BIOS. Pertama-tama bacalah
buku manual komputer atau motherboard Anda tentang cara
untuk masuk ke setting BIOS. Pada kebanyakan komputer rakitan lokal, untuk memasuki setting BIOS, tekanlah tombol Del pada saat booting awal.
Standar CMOS Setup
Pertama-tama adalah optimalkan hard disk Anda pada saat boot-up. Masuklah ke menu "Standard CMOS Setup". Ubahlah setting "Type" untuk semua hard disk yang terpasang menjadi "User". Jika Anda menggunakan setting type "Auto", maka hal ini akan menyita waktu pada saat boot-up. Setiap kali proses boot-up, BIOS akan mengecek hard disk untuk menentukan setting ukuran Cylinder, Head, Precomp, Section, dll. Jika Anda mengubahnya ke type "User", Anda akan diharuskan untuk mengisi semua setting Cylinder, Head, Precomp, Section secara manual. Periksalah nilai yang digunakan pada badan hard disk Anda. Atau gunakan cara yang lebih gampang, gunakan feature "IDE HDD Auto Detection" yang biasanya juga terdapat pada BIOS. Jika hard disk Anda mendukung, gunakan setting MODE: LBA. Biasanya feature ini hanya terdapat pada hard disk UltraDMA 66. Dengan menggunakan mode LBA, kinerja hard disk Anda akan terdongkrak. Masih pada submenu yang sama, ubahlah setting "Halt On" menjadi "All Errors". Feature ini dapat berfungsi untuk memberikan peringatan dini terhadap kerusakan hardware komputer Anda.
BIOS Features Setup
Sekarang masukkan ke submenu "BIOS Features Setup". Ubahlah setting "Boot Virus Detection" menjadi "Enabled". Namun jika Anda akan menginstall sistem operasi yang lebih baru, pastikan setting ini dimatikan (Disabled). Untuk setting "Quick Power On Self Test", ubahlah menjadi "Enabled". Setting ini akan mempercepat boot-up karena mengecekkan memori hanya dilakukan satu kali. Jika setting ini di-disabled, pengecekan akan dilakukan sebanyak tiga kali. Masih pada submenu yang sama, lakukanlah optimasi untuk prosesor Anda. Aktifkan (Enabled) setting "CPU Level 1 Cache" dan "CPU Level 2 Cache". Setting ini berguna untuk memungkinkan pemrosesan pada memori dengan kecepatan yang sangat tinggi pada inti prosesor Anda. Sebaliknya untuk setting "CPU Level 2 Cache ECC Check", matikan saja fungsi ini karena akan menghambat proses perhitungan pada cache Level 2 pada prosesor. Untuk setting "HDD Sequence SCSI/IDE First", pilihlah "IDE" jika hard disk booting yang terpasang pada komputer Anda menggunakan interface IDE/ATA; di samping itu pilihlah "SCSI" jika Anda menggunakan hard disk dengan interface SCSI untuk booting.
Chipset Features Setup
Pada submenu "Chipset Features Setup", terdapat beberapa setting yang berfungsi untuk mengoptimalkan kinerja memori komputer. Pada setting "SDRAM Configuration", pilihlah "By SPD" jika Anda mengutamakan kestabilan dan ketepatan kinerja memori komputer Anda; atau pilihlah "Disabled" jika Anda ingin mengisi setting untuk SDRAM/memori komputer secara manual. Jika Anda memutuskan untuk mengatur setting SDRAM secara manual, gunakanlah memori dengan merek ternama, misalnya Visipro atau Spectec. Pada pengaturan setting SDRAM secara manual, prinsipnya adalah nilai yang lebih kecil memberikan kinerja yang lebih cepat. Gunakan nilai terkecil untuk setting "SDRAM CAS Latency", "SDRAM RAS to CAS Latency", "SDRAM RAS Precharge Delay" (biasanya "2T"), dan "DRAM Idle Time" (biasanya "0T"). Jika kestabilan sistem terganggu setelah pengaturan SDRAM secara manual (biasanya ditandai dengan sistem booting sendiri secara tiba-tiba), masuklah ke BIOS dan gantilah setting SDRAM. Carilah setting yang terbaik untuk sistem Anda. Pada setting "SDRAM MA Wait State", ubahlah nilainya ke "Fast". Dari pengalaman, memori blank sekalipun tidak mengalami masalah dengan perubahan setting ini. Untuk setting "Video Memory Cache Mode", gunakanlah mode "USWC". Pengubahan setting ini akan mengakibatkan kinerja graphic card Anda meningkat secara drastis! Untuk setting "Memory Hole At 15M-16M", ubahlah nilainya menjadi "Disabled" jika Anda tidak memiliki piranti yang terhubung melalui slot ISA. Untuk setting "UART2 Use Infrared", ubahlah nilainya menjadi "Disabled" jika Anda tidak memiliki piranti infra merah. Pada setting "Parallel Port Mode", ubahlah nilainya ke "ECP+EPP" untuk mendapatkan koneksi yang lebih baik pada peripheral yang terhubung melalui port paralel. ECP adalah singkatan dari Extended Capability Port; sedangkan EPP adalah singkatan dari Enchanced Printer Port. Walaupun secara harfiah terdapat kesan bahwa EPP cocok untuk printer dan ECP cocok untuk peripheral selain printer (misalnya Zip Driver eksternal atau scanner), namun hal ini tidaklah selalu benar. Bahkan penulis pernah menemukan scanner yang terhubung melalui port paralel yang memberikan kinerja dan stabilitas yang lebih baik jika setting-nya dirubah ke EPP. Untuk lebih jelasnya, bacalah buku manual yang disertakan pada paket pembelian peripheral yang bersangkutan.
PNP dan PCI Setup
Pada submenu "PNP And PCI Setup", matikan beberapa feature jika memang Anda tidak sedang menggunakannya. Matikan (disabled) setting "Symbios SCSI BIOS" jika Anda tidak menggunakan kartu SCSI controller dan matikan (disabled) setting "USB IRQ" jika Anda tidak sedang menggunakan piranti USB. Setting "VGA BIOS Sequence" berfungsi untuk menentukan primary adapter jika Anda memiliki dua buah video card terpasang (satu pada AGP port dan satu lagi pada slot PCI). Pilihlah "AGP/PCI" jika Anda ingin mengaktifkan video card yang terpasang pada AGP port sebagai primary adapter pada sistem komputer Anda.
Read More
Intel dan VIA mempunyai jenis dan nama-nama setting yang nyaris
sama. Optimasi melalui BIOS pada dasarnya adalah menghidupkan fungsi
yang diperlukan dan mematikan fungsi yang tidak diperlukan.
Tujuannya adalah untuk menghemat waktu dan mengurangi beban motherboard
dan prosesor. Misalnya adalah fungsi Infrared atau SCSI,
jika memang komputer Anda tidak memilikinya, matikan
saja fungsi ini melalui BIOS. Pertama-tama bacalah
buku manual komputer atau motherboard Anda tentang cara
untuk masuk ke setting BIOS. Pada kebanyakan komputer rakitan lokal, untuk memasuki setting BIOS, tekanlah tombol Del pada saat booting awal.
Standar CMOS Setup
Pertama-tama adalah optimalkan hard disk Anda pada saat boot-up. Masuklah ke menu "Standard CMOS Setup". Ubahlah setting "Type" untuk semua hard disk yang terpasang menjadi "User". Jika Anda menggunakan setting type "Auto", maka hal ini akan menyita waktu pada saat boot-up. Setiap kali proses boot-up, BIOS akan mengecek hard disk untuk menentukan setting ukuran Cylinder, Head, Precomp, Section, dll. Jika Anda mengubahnya ke type "User", Anda akan diharuskan untuk mengisi semua setting Cylinder, Head, Precomp, Section secara manual. Periksalah nilai yang digunakan pada badan hard disk Anda. Atau gunakan cara yang lebih gampang, gunakan feature "IDE HDD Auto Detection" yang biasanya juga terdapat pada BIOS. Jika hard disk Anda mendukung, gunakan setting MODE: LBA. Biasanya feature ini hanya terdapat pada hard disk UltraDMA 66. Dengan menggunakan mode LBA, kinerja hard disk Anda akan terdongkrak. Masih pada submenu yang sama, ubahlah setting "Halt On" menjadi "All Errors". Feature ini dapat berfungsi untuk memberikan peringatan dini terhadap kerusakan hardware komputer Anda.
BIOS Features Setup
Sekarang masukkan ke submenu "BIOS Features Setup". Ubahlah setting "Boot Virus Detection" menjadi "Enabled". Namun jika Anda akan menginstall sistem operasi yang lebih baru, pastikan setting ini dimatikan (Disabled). Untuk setting "Quick Power On Self Test", ubahlah menjadi "Enabled". Setting ini akan mempercepat boot-up karena mengecekkan memori hanya dilakukan satu kali. Jika setting ini di-disabled, pengecekan akan dilakukan sebanyak tiga kali. Masih pada submenu yang sama, lakukanlah optimasi untuk prosesor Anda. Aktifkan (Enabled) setting "CPU Level 1 Cache" dan "CPU Level 2 Cache". Setting ini berguna untuk memungkinkan pemrosesan pada memori dengan kecepatan yang sangat tinggi pada inti prosesor Anda. Sebaliknya untuk setting "CPU Level 2 Cache ECC Check", matikan saja fungsi ini karena akan menghambat proses perhitungan pada cache Level 2 pada prosesor. Untuk setting "HDD Sequence SCSI/IDE First", pilihlah "IDE" jika hard disk booting yang terpasang pada komputer Anda menggunakan interface IDE/ATA; di samping itu pilihlah "SCSI" jika Anda menggunakan hard disk dengan interface SCSI untuk booting.
Chipset Features Setup
Pada submenu "Chipset Features Setup", terdapat beberapa setting yang berfungsi untuk mengoptimalkan kinerja memori komputer. Pada setting "SDRAM Configuration", pilihlah "By SPD" jika Anda mengutamakan kestabilan dan ketepatan kinerja memori komputer Anda; atau pilihlah "Disabled" jika Anda ingin mengisi setting untuk SDRAM/memori komputer secara manual. Jika Anda memutuskan untuk mengatur setting SDRAM secara manual, gunakanlah memori dengan merek ternama, misalnya Visipro atau Spectec. Pada pengaturan setting SDRAM secara manual, prinsipnya adalah nilai yang lebih kecil memberikan kinerja yang lebih cepat. Gunakan nilai terkecil untuk setting "SDRAM CAS Latency", "SDRAM RAS to CAS Latency", "SDRAM RAS Precharge Delay" (biasanya "2T"), dan "DRAM Idle Time" (biasanya "0T"). Jika kestabilan sistem terganggu setelah pengaturan SDRAM secara manual (biasanya ditandai dengan sistem booting sendiri secara tiba-tiba), masuklah ke BIOS dan gantilah setting SDRAM. Carilah setting yang terbaik untuk sistem Anda. Pada setting "SDRAM MA Wait State", ubahlah nilainya ke "Fast". Dari pengalaman, memori blank sekalipun tidak mengalami masalah dengan perubahan setting ini. Untuk setting "Video Memory Cache Mode", gunakanlah mode "USWC". Pengubahan setting ini akan mengakibatkan kinerja graphic card Anda meningkat secara drastis! Untuk setting "Memory Hole At 15M-16M", ubahlah nilainya menjadi "Disabled" jika Anda tidak memiliki piranti yang terhubung melalui slot ISA. Untuk setting "UART2 Use Infrared", ubahlah nilainya menjadi "Disabled" jika Anda tidak memiliki piranti infra merah. Pada setting "Parallel Port Mode", ubahlah nilainya ke "ECP+EPP" untuk mendapatkan koneksi yang lebih baik pada peripheral yang terhubung melalui port paralel. ECP adalah singkatan dari Extended Capability Port; sedangkan EPP adalah singkatan dari Enchanced Printer Port. Walaupun secara harfiah terdapat kesan bahwa EPP cocok untuk printer dan ECP cocok untuk peripheral selain printer (misalnya Zip Driver eksternal atau scanner), namun hal ini tidaklah selalu benar. Bahkan penulis pernah menemukan scanner yang terhubung melalui port paralel yang memberikan kinerja dan stabilitas yang lebih baik jika setting-nya dirubah ke EPP. Untuk lebih jelasnya, bacalah buku manual yang disertakan pada paket pembelian peripheral yang bersangkutan.
PNP dan PCI Setup
Pada submenu "PNP And PCI Setup", matikan beberapa feature jika memang Anda tidak sedang menggunakannya. Matikan (disabled) setting "Symbios SCSI BIOS" jika Anda tidak menggunakan kartu SCSI controller dan matikan (disabled) setting "USB IRQ" jika Anda tidak sedang menggunakan piranti USB. Setting "VGA BIOS Sequence" berfungsi untuk menentukan primary adapter jika Anda memiliki dua buah video card terpasang (satu pada AGP port dan satu lagi pada slot PCI). Pilihlah "AGP/PCI" jika Anda ingin mengaktifkan video card yang terpasang pada AGP port sebagai primary adapter pada sistem komputer Anda.
Wednesday, October 10, 2012
0
Wednesday, October 10, 2012
Unknown
Read More
Virus Sality Dan Penanganannya
Sality merupakan
virus berjenis letter of the alphabet Infector (Polymorphic) principle
menginfeksi file-file Executabe “exe”. Virus principle memiliki nama asli
w32.Hllp.KukuJoker ini banyak dikeluhkan pengguna laptop diseluruh dunia,
terutama di Dutch East Indies banyak sekali pengguna komputer principle
melaporkan telah terinfeksi oleh virus ini. Virus ini masih belum jelas asal
usulnya, dugaan sementara virus ini berasal Dari cina, selain mempunyai
kemampuan untuk menginfeksi file-file possible virus ini juga memilki kemampuan
rootkit, sehingga selain sulit untuk dibersihkan Dari system, file-file
principle terinfeksi juga cukup sulit untuk diperbaiki, menggunakan beberapa
tools remover dan antivirus juga terkadang malah bisa menimbulkan kerusakan
pada file principle terinfeksi bahkan bisa menghapusnya.
Beberapa Antivirus Luar
mendeteksi Virus ini sebagai :
- Malware.Sality [PCTools]
- W32.Sality!dr [Symantec]
- Virus.Win32.Sality.bh [Kaspersky Lab]
- W32/Sality.dr [McAfee]
- Troj/SalLoad-C [Sophos]
- Virus:Win32/Sality.AT [Microsoft]
- Win32.SuspectCrc [Ikarus]
- Win32/Kashu.E [AhnLab]
Karakteristik Virus
Jika kita lihat
memang tidak terlalu banyak perbedaan antara file principle terinfeksi dengan
file principle belum terinfeksi, principle membedakan hanyalah ukuran principle
bertambah lebih besar Dari ukuran sebelum terinfeksi, biasanya ukuran principle
bertambah hanya beberapa kilobyte saja.
Jika file terinfeksi tersebut
dijalankan, maka file tersebut dapat berjalan seperti biasanya, sehingga user
tidak mengira bahwa file principle Hawkeye State jalankan tersebut telah
terinfeksi virus, padahal dibalik itu virus sudah menetap di system.
Teknik principle digunakan virus
sality adalah dengan membelokan EntryPoint asli file ke EntryPoint-nya virus,
maka saat dijalankan virus principle terlebih dahulu aktif, baru kemudian virus
meneruskan nya ke EntryPoint asli file principle terinfeksi, sehingga file
principle dijalankan Akan aktif seperti biasa nya.
Saat aktif virus Akan membuat
beberapa file induknya di system :
%Windir%\\system32\\drivers\\.sys
Virus Akan mengektrak file driver
Dari dalam tubuhnya dan menaruhnya disystem dengan nama acak, driver ini
digunakan untuk bersembunyi di system. Contoh : amsint32.sys dan iirktn.sys
Infeksi file possible dan design
Virus Akan
mencari semua file berektensi ”.exe” & ”.scr” principle enzyme di seluruh
drive laptop korban nya, jika virus menemukanya virus Akan menginfeksinya
dengan membelokan EntryPoint asli ke EntryPoint nya virus. Sality mempunyai
kemampuan untuk mengecek apakah file principle Akan diinfeksi dilindungi oleh
system atau tidak, jika file tersebut dilindungi oleh system maka sality tidak
Akan menginfeksinya, seperti file-file principle dilindungi oleh Windows File
Protection (WFP) atau System File Checker (SFC).
Infeksi hard disc dan Jaringan
Berbeda dengan
teknik infeksi variant sebelumnya, variant sality kali ini memanfaatkan fitur
Autorun untuk mempercepat penyebaranya. File Autorun principle digunakan virus
memiliki nama dan ektensi acak (exe dan pif) . Seperti : xvftea.exe atau
xvftea.pif, dan ukuranya sekitar a hundred – a hundred and one kilobyte .Di
jaringan virus juga Akan menginfeksi setiap folder principle memiliki FULL
ACCESS scan & Write, dengan membuat sebuah route exploit principle Akan
langsung aktif apabila user memasuki folder principle sudah terdapat route
exploit tersebut.
Menghapus File
Sality Akan
mencari file berektensi “.VDB” dan “.AVC” jika ditemukan Akan langsung dihapus.
Ektensi file ini biasanya digunakan oleh beberapa antivirus untuk menyimpan
info virus.
Menghapus written record Key
Untuk
mempertahankan dirinya virus menghapus beberapa key di written record principle
dianggap mebahayakan kehidupan virus.
HKCU\\System\\CurrentControlSet\\Control\\SafeBoot
HKLM\\SYSTEM\\CurrentControlSet\\Control\\SafeBoot
HKLM\\Software\\Microsoft\\WindowsNT\\CurrentVersion\\ProfileList
HKLM\\Software\\Microsoft\\Windows\\CurrentVersion\\Ext\\Stats
HKCU\\Software\\Microsoft\\Windows\\CurrentVersion\\Ext\\Stats
HKLM\\Software\\Microsoft\\Windows\\CurrentVersion\\Explorer\\Browser
Helper Objects
Effek Dari beberapa key principle
dihapus diatas membuat user tidak dapat memasuki modus SAFE MODE
Monday, September 10, 2012
0
Monday, September 10, 2012
Unknown
Access Control and Permissions on Windows 7
Yang mau dibahas di artikel ini adalah Acces Control and Permissions on Windows 7. Yang saya ketahui fungsinya adalah untuk mengontrol akses ke suatu objek yang ada di komputer dengan OS Windows 7, yang bisa berupa file, object, maupun file....
Nah berikut langkah langkahnya...
1. Pilih file atau folder yang ingin di jadikan object

2.Klik kanan pilih ‘properties’

3. Pilih tab security

4. Pilih edit.. Maka secara otomatis dialog dibawah ini akan muncul

5. Pilih user levelnya, lalu checklist sesuai dengan kebutuhan. Jika ingin benar –benar membatasi semua akses ke folder ini, maka silahkan checklist di ‘Full Control’, setelah selesai Klik "OK"

6. Apa bila muncul peringatan seperti diatas, Pilih “Yes”
7. Setelah itu kita masuk dalam tahap pengujian folder tadi, silahkan double klik folder yang sudah di proteksi tadi, dan hasilnya akan muncul warning seperti gambar dibawah ini...

8. Ok, sekarang lihat properties folder yang kita proteksi tadi.., berikut perbandingan sebelum dan sesudah kita proteksi..

Read More
Nah berikut langkah langkahnya...
1. Pilih file atau folder yang ingin di jadikan object
2.Klik kanan pilih ‘properties’
3. Pilih tab security
4. Pilih edit.. Maka secara otomatis dialog dibawah ini akan muncul
5. Pilih user levelnya, lalu checklist sesuai dengan kebutuhan. Jika ingin benar –benar membatasi semua akses ke folder ini, maka silahkan checklist di ‘Full Control’, setelah selesai Klik "OK"
6. Apa bila muncul peringatan seperti diatas, Pilih “Yes”
7. Setelah itu kita masuk dalam tahap pengujian folder tadi, silahkan double klik folder yang sudah di proteksi tadi, dan hasilnya akan muncul warning seperti gambar dibawah ini...
8. Ok, sekarang lihat properties folder yang kita proteksi tadi.., berikut perbandingan sebelum dan sesudah kita proteksi..
Subscribe to:
Posts (Atom)
